Jumat, 03 Juni 2016

Kehidupan? Maknailah! ;-)

Kehidupan adalah sebuah proses, sebuah kesempatan yang diberikan Allah kepada kita, agar kita tahu siapa diri kita, siapa Tuhan kita, dan yang paling penting apa tujuan kita diciptakan. Ketika kita bertanya tentang kehidupan, saat itu juga akan muncul pertanyaan, “Apakah hidup itu perlu dimaknai?”. Allah menciptakan kita sebagai makhluk hidup, bukan hanya untuk sekedar hidup, tetapi dibalik itu ada sebuah tujuan besar, yaitu mencari makna dari hidup sendiri. Atau dengan kata lain, pertanyaan ini sepenuhnya harus dijawab dengan iya. Sebagian besar orang mungkin menganggap hidup itu hanyalah sekumpulan peristiwa yang disiapkan Allah untuk kita, dan tugas kita hanya menjalaninya.
Namun yakinlah bahwa kita manusia diciptakan Allah untuk menjadi seorang pemimpin, pemimpin bagi dunia, masyarakat, atau minimal menjadi pemimpin untuk dirimu sendiri. Bahkan tidak ada satu pun benda di alam semesta ini yang diciptakan Allah hanya untuk sebagai figuran, semua benda, semua makhluk di alam semesta ini mempunyai peran yang dapat mempengaruhi satu dengan lainnya. Sebagai contoh debu, apakah yang dapat dilihat dari debu? Mungkin hal pertama ketika membaca kata debu adalah kotor, membuat bersin, dan lain-lain. Namun sadarkah, dengan adanya debu, tumbuh sifat mencintai kebersihan dari seorang manusia. Dari kumpulan debu, muncul sifat rajin, minimal dimulai dari membersihkan debu yang menempel di perabotan kita. Debu, tanpa disadari telah menjadi sarana Allah untuk melatih kita menjadi lebih baik. Dari hal yang mungkin menurut teman-teman paling tidak penting di dunia, kita dapat belajar bahwa semua hal yang  diciptakan Allah itu pasti bertujuan.
Sebagai seorang manusia, tentu kita harus belajar bahwa hidup ini harus kita maknai sebagai sarana mencari tujuan hidup kita. Inilah kesempatan yang diberikan Allah, agar kita bisa memanfaatkan segala karunia fisik dan akal untuk menjadi makhluk yang terbaik, satu-satunya makhluk yang diberi akal pikiran untuk dapat terus mengembangkan diri. Kita harus sadar, bahwa hidup ini bukan sekedar disediakan untuk menjadi panggung bagi kita, aktor-aktris kehidupan. Namun, lebih dari itu, hidup adalah sekumpulan jalan yang dapat kita pilih. Hidup adalah pilihanmu, kita mempunyai kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan kita ambil. Kita memiliki akal yang sempurna untuk memilih jalan yang terbaik bagi diri kita sendiri. Hidup tidaklah seperti air yang mengalir, mengikuti arus, dan selalu mengalir mengikuti jalurnya. Adakalanya air tesebut mengalir ke sungai dan kemudian menjadi air terjun, tetapi adakalanya pula air mengalir ke tempat-tempat kotor seperti comberan. Tentu kita tak mau kehidupan kita seperti itu bukan?
Hidup perlu dimaknai sebagai pilihan, sebagai perjuangan, bukan sebagai perjalanan. Hidup itu perlu diperjuangkan, bukan hanya untuk sekedar dijalani. Manusia diciptakan untuk menjadi aktor utama setiap jalan cerita yang berbeda-beda sesuai pilihan kita, dalam panggung besar bernama kehidupan, bukan sebagai figuran. Manusia diciptakan untuk menjadi pembuat sejarah dunia, bukan untuk menjadi penonton sejarah dunia. Oleh karena itu, kehidupan kita harus selalu diisi dengan hal yang bermanfaat. Manfaat yang tentu saja dapat dirasakan diri sendiri, orang lain, dan juga masyarakat.
Hidup tidaklah selesai, ketika kita berhasil memilih hidup yang baik untuk kita sendiri, tetapi hidup kita haruslah pula bisa membantu  orang lain untuk mencapai hidup yang baik. Dengan kata lain, hidup juga merupakan suatu proses kolaborasi berbagai pribadi berbeda menuju masyarakat yang lebih baik. Tentu saja hal ini dimungkinkan sebagai akibat dari manusia yang merupakan makhluk sosial, makhluk yang memerlukan proses interaksi sesamanya, dan tentu saja tidak dapat hidup sendiri. Seorang pribadi yang baik, tentulah pula memiliki kehidupan yang memiliki manfaat bagi khalayak ramai, bagi dunia. Sudah sepatutnya lah kita harus mulai memikirkan apa sumbangsih kita untuk dunia ini, karena tentu saja kita tak mau hanya menjadi seorang aktor utama di sebuah jalan cerita yang biasa, yang tercipta atas andil pilihan kita yang biasa. Setidaknya kita bisa menjadi manfaat untuk keluarga, sahabat-sahabat kita, yang itu berarti kita sudah memberikan sumbangsih untuk dunia kecil kita
Begitulah hidup, sebuah panggung maya yang menyajikan berbagai cerita singkat dengan kita sebagai aktor utamanya. Jalan ceritanya pun sangat unik karena bisa dipilih oleh aktor utamanya. Bila kita ingin memerankan jalan cerita yang berakhir baik, kita bukan menunggu, tetapi memperjuangkan agar mendapat peran itu. Tentu saja peran baik ini hanya dapat dipilih oleh orang-orang yang terlebih dahulu memilih jalan cerita yang masih berada dalam koridor akhir yang baik, tidak terlalu menyimpang. Namun kembali lagi, kita hanya dapat memilih sebab, tanpa bisa menolak yang disiapkan Allah sebagai akibatnya. Walaupun sekeras apa pun kita mencoba merekayasa hidup dengan pilihan-pilihan kita, hidup masih merupakan suatu misteri esok hari yang tak pernah usai. Untuk itulah kita wajib mempercayai keberadaan Allah, karena Hanya Dia-lah yang Tahu apa yang terbaik untuk kita, apa yang akan menjadi jalan hidup kita.
Disadari atau pun tidak melalui kehidupan ini, Allah sedang melatih kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Entah melalui masalah yang terus mendera kita, ataupun waktu luang yang Allah berikan kepada kita, Allah sedang melatih kedewasaan kita dalam memilih hal apa yang akan kita pilih. Jika kita salah tentu Allah akan mengarahkan kita. Terakhir, hidup kita baru bisa dikatakan baik, ketika kita sudah memberikan manfaat untuk sekitar kita, dunia kita. Lebih baik lagi bila hidup kita ini memberikan sesuatu untuk dunia, sebab semakin besar lingkup sumbangsih kita, makin baik kualitas diri kita sebagai manusia sebagai hamba Allah. Tunjukkan pada dunia, bahwa Allah telah menciptakan kita sebagai manfaat sebagai alam semesta, sebagai teladan kecil, untuk dunia kecil sekitar kita. Bukan sebagai beban dunia, yang tercipta hanya untuk memberikan contoh bagi orang lain tentang bagaimana hidup yang salah dimaknai.
Jadilah idealis, yang berjalan dengan melihat keadaan, minimal kau akan melangkah lebih jauh karena mimpi yang kau kejar memaksamu untuk itu. Sebagai penulis saya tidak bermaksud menggurui dan bukan berarti saya telah menjadi manusia paling baik, sayapun masih belajar menjadi lebih baik. Mohon maaf apabila ada salah kata.
Wallahu’alam bish shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar